soal jawab agama


Soalan 3

Assalamu'alaikuAm wr. wb.

Ustaz, saya ingin bertanya mengenai hukum  bernikah bagi seorang wanita muslim yang berzina dan hamil. Menurut penjelasan  dalam satu tulisan yang telah saya baca, bahawa wanita yang hamil sebelum menikah secara resmi tidak boleh dinikahi oleh siapapun, termasuk yang menghamilinya. Kenapa demikian? Sedangkan jika benar, apakah kita tidak boleh memberikan peluang kepada wanita tersebut untuk melalui kehidupan berumahtangga? Demikian terima kasih.

Jawapan

Firman Allah SWT:

"Laki-laki yang berzina tidak mengahwini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak dikahwini melainkan oleh laki-laki yang berzina, atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas orang-orang yang mu'min". (QS. 24:3)

Para ulama tafsir berselisih pendapat dalam memahami Surat An-nur 24:03 ini.

Sebahagian pendapat menyatakan keharaman nikah dengan pezina selain pezina lainnya. Namun sebahagian lainnya hanya menganggap sebagai anjuran saja. Sebagai orang muslim/muslimah yang baik tentunya tidak rela dirinya membangun rumah tangga dengan pezina.

Menurut sebuah riwayat, Ibnu Abbas, Ibnu Mas'ud dan Ibnu Umar melarang perkahwinan seorang lelaki dengan wanita yang ia berzina dengannya. Seakan ia mencuri sesuatu kemudian membelinya.

Menurut Imam Malik, seorang wanita yang zina tidak diperbolehkan nikah kecuali setelah menyelesaikan iddahnya. Kalau ia hamil, maka ia baru diperbolehkan nikah setelah melahirkan anaknya. Dalam hal ini, Imam Malik memang punya pandangan yang sangat keras.

Yang lebih ringan adalah pendapat Imam Syafi'iy, ia berpendapat diperbolehkannya nikah dengan wanita yang zina, walau ia dalam keadaan hamil.

Demikian juga menurut Hanafiyah, hanya saja, menurut madzhab ini, sang suami tidak diperbolehkan menggauli isterinya sehingga ia melahirkan anaknya. Perbezaan madzhab-madzhab ini, hanya jika sang suami bukan lelaki yang berbuat zina kepada wanita tersebut.

Apabila sang suami adalah orang yang berbuat zina kepada sang wanita, maka semuanya sepakat memperbolehkan pernikahan tersebut, baik wanitanya hamil atau tidak.

Akan tetapi semua itu tidak mengurangi dosa berzina. Ia hanya boleh ditebus dengan penyesalan dan taubat yang sungguh-sungguh. Imam Ahmad mensyaratakan taubat yang sungguh-sungguh bagi diperbolehkannya kahwin dengan orang-orang yang berbuat zina.

Sekian, Wassalam

Abdul Ghofur Maimoen

Dari koleksi emel Masjid Annahl Group

Petikan oleh:

http://saramsa.wordpress.com

http://www.DuniaHrba.net/saramsa

Soalan 2

Assalamu’alaikum wbt,

Ustaz, isteri saya masih punya hutang puasa Ramadhan yang lalu. Sekarang sedang hamil dan juga sakit. Apakah boleh digantikan dengan membayar fidyah?

Jawapan

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabrakatuh,

Membayar fidyah adalah salah satu pilihan bila seorang wanita tidak mampu berpuasa lantaran hamil semasa bulan Ramadhan. Sedangkan bila tidak berpuasa kerana haid, maka yang harus dibayar bukan fidyah, melainkan dalam bentuk puasa.

Bahawa sekarang ini sedang hamil dan tidak mampu membayar qadha’ puasa yang ditinggalkan pada bulan Ramadhan yang lalu, maka hutang puasanya yang kerana haid itu tidak boleh ditukar menjadi hutang puasa kerana hamil.

Sebab sewaktu bulan Ramadhan hari itu, isteri anda tidak berpuasa bukan kerana hamil, tetapi kerana haid. Maka bayar hutang puasanya harus dalam bentuk puasa juga. Bukan dalam bentuk membayar fidyah.

Lalu bagaimana bila keadaan hamil ini akan terus berlanjutan hingga bulan Ramadhan akan datang?

Maka dia menggantinya dengan puasa nanti setelah selesai melahirkan anak dan setelah selesai masa nifasnya. Apa boleh buat, kerana memang demikianlah keadaannya.

Memang sebaiknya, setiap wanita harus sangat memperhatikan jadual kehamilan dan jadual puasanya. Dan pada dasarnya, wanita yang hamil itu tidak diharamkan untuk berpuasa, bila memang masih kuat. Maka upayakan sebolehnya untuk membayar hutang puasa di bulan Ramadhan tahun lalu, sebelum berniat untuk hamil lagi.

Dan ini perlu dibincangkankan dengan suami, agar boleh disiapkan jadual yang tepat dan tidak memberatkan.

Wallahu a’lam bissawab, wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

Dari koleksi emel Group Masjid Annahl
Dicatat oleh:

http://www.DuniaHerba.net/saramsa


soalan 1

Assalamu’alaikum wr. wb.

Ustaz,  kenapa  setiap kali saya berdoa memohon sesuatu, rasanya, tidak pernah terkabul? Padahal saya sudah menjalankan semuanya, mulai dari solat malam, solat hajat dll. Apakah sebabnya Ustaz? Apa yang harus saya lakukan? Kadang-kala saya berasa iri-hati  melihat ada orang yang tidak solat tetapi kehidupannya serba cukup? Mohon jawapan dari Ustaz.

Wasallam..

Jawapan

Wa’alaikumussalam Wr Wb

Allah swt berfirman :

هُوَ الْحَيُّ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ فَادْعُوهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Artinya : “Dialah yang hidup kekal, tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia; Maka sembahlah dia dengan memurnikan ibadat kepada-Nya. segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam.” (QS. Ghofir : 65)

Di banyak ayat, Allah swt telah memerintahkan kita untuk berdoa dan menjanjikan pengabulannya sebagaimana juga disebutkan di banyak hadis. Doa adalah ibadah atau otak ibadah sebagaimana ditegaskan di sebagian hadis, dan setiap ibadah memiliki rukun-rukun, syarat-syarat dan adab-adab sehingga doa itu menjadi sah dan diterima.

Para ulama berkata bahawa sesungguhnya di antara syarat-syarat diterimanya doa adalah menghadirkan fikiran dan hati ketika berdoa. Maka tidak cukup bagi seseorang hanya sekadar menggerakkan bibir tatkala berdoa sementara fikirannya berpaling dari Allah dan tidaklah cukup hanya menghadirkan fikiran sementara perasaannya dingin akan tetapi haruslah disertai dengan keinginan agar dikabulkan, rasa takut akan tidak dikabulkan dan menghadirkan keagungan Allah swt.

Hal ini dikuatkan dengan apa yang disebutkan di akhir ayat yang menyebutkan doa Nabi Ayyub, Dzin Nuun dan Zakaria tatkaa mengatakan,” wahai Roobul ‘Izzah…

إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ

Artinya : “Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada kami dengan harap dan cemas. dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada kami.” (QS. Al Anbiya : 90)

Seorang yang berdoa haruslah menjadi orang yang taat kepada Allah swt tanpa ada kekurangan, menyambut ketaatan dengan rasa senang, bersegera, berharap pengabulan doanya, serta rasa takut dengan menghadirkan fikiran dan hati.

Di dalam hadis sahih bahawa memakan yang haram mencegah pengabulan doa sebagaimana disebutkan Rasulullah saw tentang seorang laki-laki yang melakukan perjalanan yang jauh, rambutnya kusut dan berdebu yang menengadahkan kedua tangannya ke langit dan mengatakan,

”Wahai Robb, wahai Robb sementara makanannya haram, pakaiannya haram bagaimana,doanya akan dikabulkan.”

Perkara-perkara diatas (didalam hadis itu) yang menjadikan doa dikabulkan ditambah lagi berbagai perkara yang disunnahkan diantaranya : bersuci, menghadap kiblat, berdoa dengan doa-doa yang ma’tsur, berupaya memilih waktu-waktu dan tempat-tempat yang diberkahi seperti setengah malam akhir, antara azan dan iqomat, tatkala melihat ka’bah, tatkala pengabulan doa di hari jum’at….

Juga membuka doa dengan mengucapkan basmalah, memuji Allah, salawat dan salam atas Rasulullah saw dan menutupnya dengan salawat atasnya juga… (Fatawa Al Azhar juz IX hal 369)

Untuk lebih memberi penjelasan tentang adab berdoa maka berikut penuturan Imam Ghazali tentangnya :

1. Hendaklah didalam berdoa berusaha memilih waktu-waktu yang mulia seperti hari arafah, ramadhan, hari jum’at, waktu sahur.

Artinya : “Dan selalu memohonkan ampunan diwaktu pagi sebelum fajar (sahur).” (QS. Adz Dzariyat : 18)

2. Memanfaatkan kondisi atau keadaan-keadaan yang mulia, seperti sabda Rasulullah saw,”Doa diantara azan dan iqomat tidaklah ditolak.” (HR. Abu Daud)

3. Hendaklah menghadap kiblat tatkala berdoa dan mengangkat tangan hingga terlihat warna putih kedua ketiaknya, sebagaimana diriwayatkan dari Anas bahawa,

“Nabi saw mengangkat kedua tangannya sehingga terlihat warna putih kedua ketiaknya ketika berdoa dan tidak memberikan isyarat dengan jari jemarinya.”

4. Merendahkan suara…; Aisyah mengatakan tentang firman Allah swt,

“Janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam salatmu dan janganlah pula merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara kedua itu” (QS. Al Israa : 110)

yaitu didalam doamu.
5. Tidak menyusahkan diri dengan bersajak di dalam berdoa. Sesungguhnya seorang yang berdoa seyogyanya berada dalam keadaan tunduk sedangkan memberatkan diri tidaklah sesuai dengan sabda Rasulullah saw,

”Akan datang suatu kaum yang berlebih-lebihan dalam berdoa.”

6. Tunduk, khusyu, penuh harap dan rasa takut, sebagaimana firman Allah swt :

إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ

Artinya : “Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada kami dengan harap dan cemas. dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada kami.” (QS. Al Anbiya : 90)

7. Berkeyakinan kuat akan dikabulkan doanya serta benar d idalam pengharapannya. Sabda Rasulullah saw,

”Berdoalah kepada Allah dan anda meyakini akan pengabulannya. Ketahuilah bahwa Allah azza wa jalla tidaklah mengabulkan doa dari hati yang lalai.” (HR. Ahmad, Thabrani)

8. Mengulanginya hingga tiga kali. Ibnu Mas’ud mengatakan bahwa,

“Nabi saw apabila berdoa maka dia berdoa hingga tiga kali dan apabila dia meminta maka dia meminta hingga tiga kali.” (HR. Muslim)

9. Hendaklah memulakan doanya dengan dzikrullah (menyebut nama Allah), tidak terus dengan meminta. Sabda Rasulullah saw,

”Apabila kamu meminta kepada Allah azza wa jalla suatu keperluan maka mulailah dengan salawat atasku…” (HR. Abu Thalib al Makkiy)

10. Bertaubat, mengembalikan simpanan-simpanan orang lain serta menyambut (seruan) Allah swt dengan penuh semangat. (Ihya Ulumuddin juz I hal 361 – 3650)

Adapun tentang orang-orang nampaknya jauh dari Allah, seperti tidak mengerjakan salat, tidak berpuasa di bulan Ramadhan atau bahkan orang-orang non- muslim, namun mereka memiliki ‘rezeki’ melebihi orang-orang yang saleh, maka tidak sepatutnya anda iri-hati terhadap mereka; kerana seorang mukmin tidaklah iri-hati dalam urusan dunia. Iri-hati dalam urusan dunia hanya akan menyeretnya menjadi hamba dunia. Akan tetapi hendaknya seorang mukmin iri-hati dalam urusan akhirat.

Sesungguhnya iri-hati atau tidak anda kepada mereka semua maka tidak akan dapat mencegah takdir Allah atas mereka. Dan perlu diyakini bahwa banyak harta, tingginya jabatan atau kedudukan belum tentu menjadi tanda keridhoan dan kecintaan Allah kepadanya.

Hal lain yang perlu juga anda yakini bahawa bentuk-bentuk pengabulan Allah swt terhadap doa seseorang ada tiga :
1. Terus diberikan kepadanya apa yang dimintanya di dunia.
2. Ditahan untuk diberikannya di akhirat.
3. Dihapuskan dosa-dosanya setara dengan doa-doanya

Sebagaimana disebutkan di dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Tirmidzi dari Abu Hurairah bahawa Rasulullah saw bersabda,

”Tidaklah seorang muslim berdoa kecuali dikabulkannya. Mungkin dengan dipercepat pemberiannya di dunia, mungkin dijadikan tabungan baginya di akhirat dan mungkin juga dihapuskan dosa-dosanya setara dengan doanya, selama ia tidak berdoa sambil berbuat dosa atau memutuskan silaturrahim atau meminta cepat-cepat dikabulkan.”

Wallahu A’lam

Ustadz Sigit Pranowo, Lc.

Dari koleksi emel Masjid Annahl Group

Dicatat oleh:

http://saramsa.wordpress.com

http://www.DuniaHerba.net/saramsa